Monday, February 28, 2011

Ayam Kalkun Keturunan Tyrannosaurus

Furcula, istilah untuk wishbone, tulang milik ayam kalkun, dimiliki pula oleh dinosaurus.

Di sejumlah negara ada tradisi yang dilakukan beberapa hari setelah Thanksgiving. Pada kesempatan itu, dua orang akan memegang tiap ujung dari tulang garpu (wishbone atau furcula) ayam kalkun. Mereka menarik masing-masing ujungnya sampai tulang itu patah menjadi dua.

Sebagai informasi, wishbone merupakan tulang yang khusus karena ia merupakan satu kesatuan.

Furcula, istilah biologi untuk tulang garpu atau wishbone terbentuk dari penggabungan dua tulang selangka di sekitar tulang dada. Furcula merupakan bagian penting dari mekanisme penerbangan burung. Ia menjadi titik penghubung untuk otot dan alat penguat bagi sayap.

Tulang itu sendiri sebenarnya elastis dan bertindak sebagai pegas yang menyimpan dan melepaskan energi saat burung mengepakkan sayapnya. Sangat sulit untuk mematahkan tulang ini jika belum dikeringkan.

Seperti dikutip dari Life Little Mysteries, 25 Februari 2011, sebelum ini ilmuwan mengira bahwa furcula merupakan tulang yang unik, yang hanya dimiliki burung.

Namun kini paleontologis memastikan, tulang ini sudah ada sejak lebih dari 150 juta tahun lalu dan tulang itu dimiliki oleh dinosaurus berkaki dua, yang memakan daging, yakni Tyrannosaurus dan Velociraptor.

Seperti diketahui, dua makhluk hidup reptil ini tidak terbang. Pada tubuh mereka, furcula kemungkinan bertindak sebagai struktur penopang saat dinosaurus itu memegang mangsanya.

Temuan ini merupakan komponen penting dari teori yang umum diterima bahwa burung dan unggas termasuk ayam kalkun merupakan keturunan dari dinosaurus seperti Tyrannosaurus.• VIVAnews 

"Belum Ada Bangunan Bentuk Piramid di Jabar"

Temuan di sekitar Bandung lebih banyak berupa peninggalan dari masa prasejarah.

Sekelompok orang yang tergabung dalam Yayasan Turangga Seta mengklaim telah menemukan piramida besar yang tersembunyi di beberapa bukit di berbagai tempat di Indonesia. Salah satunya dianggap ada di Gunung Lalakon, desa Jelegong, kecamatan Kotawaringin, kabupaten Bandung, Jawa Barat dan Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat

Namun, Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia mengaku belum mengetahui kepastian temuan cagar budaya tersebut.

Kepala Departemen Arkeologi FIB UI DR Irmawati Marwoto mengatakan belum ada penelitian terhadap bukit piramida tersebut, karena belum ditemukan bukti sejarah atau arkeologi yang mendukung kebenaran temuan tersebut.

"Kami belum tahu ya. Karena yang kami tahu, temuan di sekitar situ itu lebih banyak ditemukan peninggalan dari masa prasejarah. Jadi belum tahu tentang keberadaan adanya bangunan, apalagi berbentuk piramid," kata Irmawati saat dihubungi VIVAnews.

Irma kemudian menjelaskan, bangunan berbentuk menyerupai Piramid di Indonesia baru ditemui dari bangunan candi Sukuh, Jawa Tengah. "Setahu saya memang belum ada bangunan berbentuk piramid lain yang ditemukan," jelasnya.

Selain itu, selama ini temuan berupa bangunan di sekitar Jawa Barat baru sedikit yang dapat diidentifikasi. "Di sekitar Jawa Barat itu ada Candi Batujaya di Karawang," jelas Irmawati.

Candi Batujaya merupakan candi yang terbuat dari batu bata, dan diduga merupakan peninggalan masa Hindu-Buddha pada abad ke-4 atau ke-5. • VIVAnews

Selamatkan Dunia? Ayo Makan Serangga!

Serangga bisa menjadi sumber protein yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Tak diragukan lagi, bahwa serangga mengandung protein yang tinggi. Tak heran bila sejak lama sudah banyak pemikiran untuk memanfaatkan serangga sebagai 'kudapan' yang menyehatkan.
Baru-baru ini, para peneliti dari Wageningen University Belanda, menegaskan kembali hal itu dengan hasil terbaru dari studi mereka.
Memang menjadikan serangga sebagai makanan mungkin masih menjijikkan bagi sebagian besar orang. Namun, di beberapa tempat, seperti misalnya di Afrika bagian selatan, ulat Mopani, adalah snack yang cukup populer.
Orang Jepang juga sudah sejak lama mengkonsumsi larva serangga air, sementara orang Meksiko juga sudah sering menjadikan belalang sebagai makanan. Sayangnya tradisi ini tidak cukup populer di kebudayaan modern.
Padahal, menurut hasil riset tim Wageningen University, serangga menyumbang jejak gas rumah kaca yang lebih banyak karena memproduksi lebih sedikit methan, nitrous oxide, dan ammonia, daripada daging sapi atau babi.
Insect stir fry
"Ini membuktikan bahwa hipotesis bahwa serangga bisa menjadi sumber protein yang lebih efisien, dan saya sangat yakin akan ada serangga yang dapat dimakan, di masa depan," kata Dennis Oonincx, dari Wageningen University.
Padahal, Food and Agriculture Organization (FAO) menyalahkan sektor pangan sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar, yakni sekitar 9 persen dari emisi karbon dioksida. Salah satu yang terbesar, adalah dari penggunaan lahan (37 persen dari methan dan 65 persen emisi nitrous oxide).
Oleh karenanya, mereka berkesimpulan bahwa konsumsi serangga bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, yakni mampu mereduksi hingga 30 persen pada produksi pangan, berkat penurunan dari konsumsi daging. Tak hanya itu, ini juga berarti akan ada pengurangan kematian tiba-tiba akibat penyakit jantung.

• VIVAnews

Ditemukan, Dinosaurus dengan Tendangan Maut

Berbeda dengan sauropod lain, Brontomerus memiliki tulang pinggul yang jauh lebih besar.

Satu spesies dinosaurus baru, yakni Brontomerus mcintoshi telah dipublikasikan di jurnal Acta Palaeontologica Polonica. Oleh penemunya, dinosaurus ini disebut juga sebagai ‘thunder-thighs’ karena memiliki otot paha yang sangat kuat.

Brontomerus, anggota dari dinosaurus sauropod yang memiliki leher panjang seperti Diplodocus dan Brachiosaurus kemungkinan menggunakan otot pahanya yang kuat sebagai senjata untuk menendang lawannya. Kemungkinan lain, otot itu bermanfaat untuk membantu mereka berjalan jauh atau berjalan di medan yang sulit.

Diperkirakan, hewan ini hidup sekitar 110 tahun lalu, selama Early Cretaceous Period dan kemungkinan harus berseteru dengan pemangsa yang ganas seperti Deinonychus dan Utahraptor.

Dua fosil Brontomerus mcintoshi, satu fosil dewasa dan satu fosil anak berhasil diamankan oleh peneliti ke Sam Noble Museum, di Amerika Serikat. Menurut para paleontologist, fosil yang lebih besar merupakan fosil induknya yang diperkirakan memiliki panjang 14 meter dan bobot seberat 6 ton. Adapun fosil anaknya, diperkirakan memiliki bobot tubuh seberat 200 kilogram dengan panjang 4,5 meter.

Peneliti mengamati genus baru itu berdasarkan tulang bahu, pinggul, rusuk, tulang belakang, dan beberapa bagian yang belum berhasil diidentifikasi. Tulang-tulang itu digunakan untuk mengidentifikasi fitur unik Brontomerus, khususnya bentuk ilium (tulang pinggul) yang dalam kasus Brontomerus, berukuran luar biasa besar dibanding dengan milik dinosaurus serupa.

Tulang lebar dan berbentuk pipih itu maju hingga ke depan dudukan pinggul, menyediakan kawasan yang luas untuk menampung otot. Bentuk tulang itu mengindikasikan bahwa hewan tersebut kemungkinan memiliki otot kaki terbesar di antara seluruh dinosaurus di keluarga sauropod. Otot itu tercermin dari nama Brontomerus atau “thunder-thighs”dalam bahasa Inggris.

Adapun nama mcintoshi dipilih untuk menghormati John ‘Jack’ McIntosh, seorang fisikawan asal Wesleyan University, Amerika Serikat yang juga merupakan paleontologist lepas.

“Brontomerus mcintoshi merupakan penemuan yang sangat menarik bagi kami,” kata Mike Taylor, peneliti dari Department of Earth Sciences, University College London, seperti dikutip dari Science 2.0, 28 Februari 2011. “Saat kami mendapati bentuk aneh dari pinggulnya, kami memikirkan apa fungsinya, namun kami menyimpulkan bahwa untuk memperkuat tendangan merupakan manfaat yang paling memungkinkan,” ucapnya.

Taylor menyebutkan, tendangan Brontomerus kemungkinan digunakan saat dua pejantan bersaing untuk memperebutkan seekor Brontomerus betina. Namun melihat mekanisme tulang yang ditemukan, tidak mustahil jika tendangan Brontomerus digunakan sebagai tendangan ‘maut’ untuk mempertahankan diri dari serangan predator yang bermaksud memangsanya.• VIVAnews 

Robot NASA Gagal Tuntaskan Misi Luar Angkasa

Robonaut R2 dibuat oleh NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. 

 Robot humanoid milik NASA, yang menandai perjalanan luar angkasa pertamanya bersama misi terakhir pesawat ulang alik Discovery Sabtu silam, dilaporkan telah gagal menjalani misinya berjalan di stasiun ruang angkasa atau international space station (ISS).

Demikian dikabarkan NASA usai menerima laporan langsung dari ISS, yang dikutip VIVAnews dari Computer World, Selasa 1 Maret 2011.

Dua astronot NASA, Steve Bowen dan Alvin Drew, baru saja menyudahkan misi ruang angkasanya pada hari Senin ketika robot humanoid itu berhenti bekerja sesampainya di pesawat kubah 7 jendela.

Padahal, astronom membawanya untuk membantu mereka menginstal ekstensi ke pusat listrik (power cable). Para astronot juga memerlukan bantuannya ketika memindahkan modul pompa seberat 800 pound (setara 362 kilogram) untuk sebuah platform eksternal di mana ia akan "menumpang" untuk kembali ke Bumi pada misi selanjutnya. Namun, kedua misi itu gagal dilakukan.

Bowen dan Drew, yang telah menjalani misi ke-200 sebagai astronot, juga dijadwalkan untuk menginstal kamera di rangka eksternal dan membubuhkan dua ekstensi ke trek sepanjang rangka. Namun, misi ini belum diselesaikan.

Pesawat ulang alik milik NASA, Discovery, telah tiba di ISS atau stasiun ruang angkasa, Sabtu 26 Februari 2011. Ini merupakan kali terakhir pesawat berawak itu mengangkut manusia ke luar angkasa sejak Agustus tahun 1984.

Discovery membawa enam awak astronot dalam misi terakhirnya. Dipimpin oleh Steve Lindsay, pesawat yang telah menjalankan 38 misi itu mengangkut pilot Eric Boe, Alvin Drew, Michael Barratt, Nicole Stott, dan Steve Bowen.

Mereka membawa robot yang menyerupai fisik manusia. Bernama Robonaut R2, ia dibuat oleh NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. Nantinya, ia akan melakukan pekerjaan-pekerajaan yang berisiko tinggi bagi manusia, terutama berjalan di luar angkasa.• VIVAnews

Saturday, February 26, 2011

Misteri Migrasi Penyu Laut Terjawab Sudah

Bagaimana penyu dapat bermigrasi ke satu arah yang sama dengan jarak 3.000 kilometer?

Sampai saat ini, bagaimana spesies seperti penyu laut dapat bermigrasi ribuan mil di lautan tanpa petunjuk apa-apa menjadi misteri besar para ilmuwan.

Sebagaimana diketahui, penyu adalah kura-kura laut. Berbeda dengan kura-kura, penyu memiliki sepasang tungkai depan sebagai kaki pendayung. Penyu laut tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam, berbeda dengan kura-kura. Walaupun seumur hidup berkelana di dalam air, sesekali mereka tetap harus ke permukaan.

Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Seperti, jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh hewan yang bernapas dengan paru-paru itu dalam waktu 58 - 73 hari.

Kini, para peneliti dari University of North Carolina yakin bahwa mereka telah menemukan jawabannya. Penyu tempayan, spesies penyu laut, dapat menentukan garis bujur dengan menggunakan dua set isyarat magnetik, seperti kompas.

Ini adalah kali pertama kemampuan tersebut ditunjukkan dalam migrasi hewan. Penelitian ini pun kemudian langsung dipublikasikan di jurnal Current Biology.

Sebelumnya, sejumlah jenis penyu diperkirakan hanya mampu menggunakan isyarat magnetik untuk menentukan lintang, dan diyakini tidak mampu mengenali garis bujur. Tapi, temuan ini mengejutkan para peneliti ketika mengembangkan suatu metode yang melibatkan kekuatan dan sudut medan magnet Bumi.

"Bagian tersulit dari navigasi terbuka di laut bebas adalah menentukan posisi bujur dan arah timur-barat," kata Nathan Putman yang bertindak sebagai kepala riset. Dikutip VIVAnews dari BBC, Jumat 25 Februari 2011.

"Membutuhkan waktu berabad-abad untuk mengetahui garis bujur dalam perjalanan panjang mereka di laut," tandasnya. Namun, bagi penyu tempayan, migrasi ini harus ditempuh ketika mereka sampai ke laut dari sarang mereka di pinggir pantai. Saat mencapai pantai, tiap penyu kecil akan melewati kursus singkat untuk berenang di laut terbuka.

Bagaimana peneliti mengetahui bahwa penyu dapat mengenali garis bujur dengan isyarat medan magnet?

Peneliti membawa sejumlah penyu tempayan yang ditangkap dari laut Florida. Mereka ditempatkan di dalam wadah air melingkar dan ditambatkan sistem pelacakan elektronik untuk memantau arah berenangnya.

Para penyu kemudian dikenakan isyarat medan magnet yang direplikasikan di dalam kolam. Kedua isyarat itu ditempatkan di dua lokasi berbeda dengan pada garis lintang yang sama, namun di garis bujur yang berbeda sepanjang rute migrasi mereka.

Penyu tempayan bereaksi untuk tiap-tiap medan magnet dan berenang ke arah yang mereka tuju. Dalam kenyataan, arah itu sesuai dengan rute migrasi yang membentuk lingkaran. Dengan demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa penyu dapat menentukan informasi bujur menggunakan medan magnet.• VIVAnews

Belasan Asteroid Dekat Bumi?

Kemungkinanan asteroid membentur atmosfer Bumi kira-kira 1 banding seribu.
Menggunakan teleskop canggih di Pulau Maui, Hawaii, sejumlah astronom berhasil menangkap gambar 19 asteroid yang lalu-lalang di sekitar Bumi. Jumlah tersebut merupakan jumlah terbanyak yang berhasil ditemukan para ilmuwan dalam kurun waktu satu malam.

Para ilmuwan yang menggunakan teleskop Pan-STARRS PS1 di Haleakala, Maui, mengatakan citra asteroid itu ditangkap oleh teleskop berumur tua yang software-nya sudah diimprovisasi dan teknik observasi yang diperbaiki.

Dahulu, sebelum instrumen itu diimprovisasi, teleskop seringkali  salah mendeteksi. "Sulit membedakan antara asteroid yang nyata dan asteroid 'hantu'," kata Nick Kaiser, kepala proyek Pan-STARRS, seperti dikutip dari Star-Advertiser, Sabtu 26 Februari 2011.
"Selama demonstrasi yang dilakukan pada 29 Januari silam, para astronom mengambil empat eksposur berbeda, satu per satu, untuk memastikan hasil observasi nantinya akan akurat," tandasnya.

Untuk mengerjakan proyek deteksi kegiatan asteroid di sekitar Bumi ini, Kaiser cs menerima dana hibah dari badan antariksa AS, NASA, dan US Air Force. Proyek ini juga melibatkan sejumlah studi dan penelitian.

"Kami tidak didanai khusus untuk ini, tetapi kami pikir kami melakukannya untuk sebuah demonstrasi. Kami berharap untuk menghasilkan lebih banyak dana untuk kegiatan serupa [deteksi asteroid]", kata Kaiser.

Dari studi selama ini, kemungkinanan asteroid membentur atmosfer Bumi kira-kira 1 banding seribu. Dan, menurut Kaiser, keberadaan asteroid dapat diketahui sehingga memungkinkan pemerintah untuk bertindak cepat sebelum hal tersebut menjadi sebuah ancaman yang nyata.

"Layaknya risiko penyakit berbahaya yang langka," kata Kaiser. "Kemungkinan orang terjangkit penyakit tersebut kecil sekali. Namun, risiko yang diterima saat terjangkit benar-benar tidak diinginkan. Tentu saja Anda ingin mengantisipasi hal itu supaya tidak terjadi," jelasnya.

Dengan keakuratan hasil observasi teleskop oleh Pan STARRS ini diharapkan para ilmuwan dapat mewaspadai tiap kegiatan asteroid di sekitar Bumi sebelum terjadi bencana akibat benturannya dengan atmosfer.
• VIVAnews

Polusi Udara Lebih Berbahaya Ketimbang Kokain

Polusi udara diperkirakan menjadi penyebab kematian prematur 2 juta orang setiap tahun.
Polusi udara dapat memicu serangan jantung lebih besar daripada mengkonsumsi kokain. Polusi udara bahkan bahkan lebih berbahaya ketimbang pemicu serangan jantung lainnya, seperti kopi, alkohol, dan aktivitas fisik. Demikian dikatakan para peneliti, Sabtu 26 Februari 2011.

Memang, seks, amarah, menggunakan ganja, serta infeksi dada atau pernapasan juga bisa memicu serangan jantung secara lebih luas. Namun, kata para peneliti, polusi udara terutama di lalu lintas yang padat menjadi pemicu yang paling berbahaya.

Temuan oleh sejumlah peneliti dari Hasselt University asal Belgia ini dapat ditemui dalam jurnal The Lancent. Melalui studi ini, peneliti mengimbau pada masyarakat, terutama mereka yang bermukim di daerah padat pemukiman dan lalu lintas, untuk lebih mewaspadai risiko datangnya serangan jantung.

Walaupun, diakui peneliti, serangan jantung yang disebabkan karena polusi udara masih sangat sedikit kasusnya dewasa ini. "Risikonya sangat tinggi. Tetapi, kasusnya masih relatif langka. Sama halnya serangan jantung akibat pengunaan narkoba," kata kepala studi Tim Nawrot, yang dikutip VIVAnews dari Strait Times.

Lebih lanjut, dia berharap agar temuannya cukup berarti untuk mendorong para dokter supaya bisa berpikir lebih sering tentang risiko tingkat populasi yang tinggi.

"Dokter selalu melihat pasien secara individu, sementara faktor risiko sulit terdiagnosa sebagai sesuatu hal yang penting pada tingkat individu. Tetapi, jika mereka memerhatikan secara populasi, maka mereka memiliki relevansi terhadap kesehatan publik yang lebih besar," ujarnya.

Isu polusi udara kini mengglobal. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menggambarkan polusi udara sebagai salah satu ancaman lingkungan terbesar untuk kesehatan. Dan, polusi udara diperkirakan menjadi penyebab kematian prematur hingga 2 juta penduduk di seluruh dunia setiap tahunnya.• VIVAnews

Friday, February 25, 2011

Semut Api di Asia Ternyata dari Amerika

Amerika Serikat ternyata bukan hanya mengekspor
kebudayaannya ke seluruh dunia termasuk Asia. Sebuah riset
menemukan, semut api (Solenopsis invicta) yang berkembang di
Asia juga berasal dari Amerika Serikat.
Aslinya, semut penggigit ini berasal dari Amerika Selatan. Baru
pada tahun 1930-an, semut api merangsek kawasan utara. Dan 20
tahun terakhir, semut api juga sudah menjajah negeri-negeri di
Asia-Pasifik seperti China, Taiwan, Australia dan Selandia Baru.
Risetnya tentu bukan mewawancara semutnya karena ini mustahil.
Riset dilakukan melalui penelitian genetik yang dilansir sebuah tim di
jurnal Science, pada Jumat 25 Februari 2011 ini.
Meski berasal dari Amerika Selatan, namun peneliti memastikan
yang berkembang di Asia adalah keturunan semut api yang
berkembang belakangan di Amerika Serikat, kata Marina Ascunce,
dari Museum Sejarah Alam Florida, Universitas Florida.
"Saya dulu kira, setidaknya salah satu populasi di kawasan yang
baru terjangkit berasal dari Amerika Selatan, namun semua data
genetik memperlihatkan sumber yang paling mendekati adalah
semut api dari kawasan selatan Amerika Serikat."
"Dengan mengetahui dari mana asal mereka, pengendalian biologis
tentu bisa lebih fokus," kata Ascunce. "Kami juga dapat
meningkatkan pengawasan kawasan sumber atau rute transportasi
kunci," katanya.
Data genetika ini didapatkan dari semut-semut yang berasal dari
2.144 koloni yang tersebar di 75 kawasan geografis. Kesimpulan
didapatkan dalam serangkaian tes untuk menentukan asal semut
api.
Transportasi memang menjadi jawaban dari fenomena ini. Larry
Gilbert, Direktur Laboratorium Lapangan Brackenridge, Universitas
Texas, menyatakan, beberapa serangga penjajah ini dibawa ke
Amerika Serikat melalui perdagangan.
"Jadi, sangat ironis ketika satu dari serangga yang terbawa ke
Amerika Serikat lalu menjadi pelabuhan untuk mereka keluar ke
seluruh dunia," kata Gilbert mengomentari hasil penelitian, kepada
Associated Press.
Para ilmuwan memperkirakan semut api masuk Amerika Serikat
melalui kapal kargo di Alabama. Dan sekarang, Amerika
membelanjakan US$6 miliar per tahun untuk memerangi
serangga, kerusakan pertanian dan biaya pengobatan.

Wednesday, February 23, 2011

Mungkinkah Kita Berketurunan di Luar Angkasa?

Ruang angkasa sendiri sebenarnya merupakan sebuah sistem kontrasepsi yang sangat besar.
Konsep bercinta di luar angkasa tengah marak dibicarakan. Apalagi, jika suatu saat nanti manusia harus meninggalkan Bumi karena sudah tidak layak untuk dihuni, kita tetap perlu menghasilkan keturunan. Bahkan saat kita sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru itu.

Akan tetapi, sejauh mana peluang untuk mendapatkan keturunan saat manusia telah meninggalkan planet bumi ini?

Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, tampaknya hal tersebut sulit terjadi. Pasalnya, ruang angkasa sendiri sebenarnya merupakan sebuah sistem kontrasepsi yang sangat besar.

Hasil penelitian khusus seputar seks di ruang angkasa menyimpulkan bahwa radiasi kosmik akan membombardir tubuh manusia dengan kuantitas yang besar selama perjalanan di luar angkasa. Selain itu, tinggal di Mars, misalnya, dalam waktu yang lama akan menurunkan jumlah sel sperma.

Janin yang sudah terbentuk tidak akan berkembang secara sempurna di lingkungan ruang angkasa. Meski saat ini ruang di pesawat angkut telah dilengkapi dengan pelindung radiasi yang lebih baik, tetap saja itu tidak cukup untuk melindungi zigot untuk berkembang.

Jika bayi berhasil keluar dari kandungan, peluang bayi itu mengalami cacat yang diakibatkan oleh radiasi sangat besar.

Dan masalah tidak hanya sampai di situ. Dari penelitian terhadap hewan yang dikirim ke luar angkasa, imbas radiasi bisa membunuh sel telur pada janin. Bayi akan terlahir dalam kondisi mandul. Artinya, itu akan mempersulit umat manusia berkembang di planet baru itu nantinya.

Menurut Richard Jennings, pakar medis ruang angkasa asalh University of Texas, astronot memang terbukti tetap mampu membuahi pasangannya setelah ia kembali ke Bumi. Akan tetapi, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap astronot yang menunaikan misi di luar angkasa dalam periode waktu lebih lama.

Dari sisi teknis, masih ada tantangan bagi manusia yang ingin menunaikan tugasnya di luar angkasa. Kostum ruang angkasa saat ini cukup berat dan tidak menyediakan banyak kemudahan untuk bercinta. Sayangnya, manusia tetap perlu menggunakan pakaian khusus.

Alasannya, dalam kondisi tanpa gravitasi, keringan atau cairan lain yang keluar dari tubuh berpotensi dapat merusak perangkat elektronik pesawat. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa manusia lebih berkeringat saat di luar angkasa.

Beberapa pakar melontarkan ide untuk membuat ‘ruang intim’ yang dipenuhi dengan titik-titik air dingin atau minyak beraroma pada pesawat luar angkasa agar turis yang melancong ke luar Bumi dapat meningkatkan hasrat bercinta mereka.

Namun demikian, tetap saja ada hambatan lain yang telah disiapkan ruang angkasa. Mekanisme tubuh manusia tidak memungkinkan itu terjadi. Sebagai informasi, gravitasi mikro atau tanpa gravitasi menurunkan tekanan darah manusia. Akibatnya, penis pria tidak akan dapat ereksi secara penuh.

Jika manusia ingin mendiami planet lain, antariksawan harus melakukan perubahan besar-besaran pada pesawat ruang angkasa agar penjelajah di masa depan bisa bertahan lebih lama di luar angkasa dan mampu menunaikan tugas alaminya.• VIVAnews

Protected by Copyscape Web Plagiarism Detection
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons